Tag

, , , ,

Di resume oleh : Esti darmawati (S1 Antropologi-070810421)

TERDESAK TUNTUTAN PERUT

            Kirdowono adalah sebuah kawasan yang mayoritaas ber mata pencaharian ialah nelayan, desa kirdowono adalah desa di kecamatan Karangwani, Kabupaten Merangigel, Jawa Tengah. Masyarakat Kirdowono masih banyak yang memiliki kebiasaan ke “dukun” guna melampiaskan masuk ikhtiar agar rezeky mudah di dapat, walaupun jika kita mengamati lebih jauh dalam buku ini, dukunnya pun tidak lebih kaya terkadang dibanding nelayan yang meminta jimat pada dia. Prilaku ini disebutkan Malinowsky (1954)sebagai prilaku mistie manusia yang muncul sebagai  reaksi terhadap ketidak tentuan dan kesangsian akan kemujaraban tindakan-tindakan teknis yang nyata.

Pada tahun 1960-an desa Kirdowono merupakan desa nelayan terbesar di wilayah kabupaten Merakngigel, yang mena hampir semua warga nya menangkap ikan dengan menggunakanperahu mayang dan compreng yang di gerakkan dengan layar dan dayung. Perahu mayang digunakan untukmenangkap ikan dengan pukat meyang , perahu ini berukuran besar yang dapat emuat 30 orang nelayan untuk menarik payangyang panjangnyadapat mencapai 600 meter. Perahu compreng yang berukuran kecil di gunakan untuk memuat pwling banyak nelayan, alat tangkap yang di gunakan adalah Gemplo yaitu versi kecil payang.

            Awal tahun 1970-an para nelayan Merangigel yakni kawasan sekiar  6 KM dari timur Kirdowono. Menggunakan perahu-perahu pursin besar bermesin diesel. Perahu ini menggunakan alat tangkap pursin yaknii pukat cincin, pada masa ni perahu pursin  Merakngigel di gerakkan oleh mesin berkekuatan 100 tenaga kuda dan di kawal oleh 30 nelayan. Karena pekerjaan nelayan Merangigel sangatlah lebih mudah dan tidak mengeluarkan banyak tenaga, hal ini membuat para nelayan (pandega) banyak yang berbondong berganti pekerjaan menjadi nelayan-nya Marangigel. Terdesak oleh tuntutan peru, pemilik atau juragan perahu mayang pun akhirnya mengikuti jejak jejak pandeganya untuk menhadi pandega pursin di daerah merakngigel ini.Nelayan yang masih mampu bertahan di Kardowono pada tahun ini merupakan beberapa juragan perahu compreng, yang memanfaatkan tenaga kerja dari rumah masing-masing(anak dan menantu laki-laki).

Pada Tahuan 1975an, perahu pursin Merangigel beroprasi hingga ke perairan Kaarimun jawa. Pada tahun 1980-an, lokasi penangkapan bergeser kian ketimur, ke perairan pulau kengean dan bawean. Pada tahun 1987 waktu kerja para nelayan pursin merakngigel sudah mencapai empat samapai lima minggu tiap kali pelayaran dan pelayaran sudah mencapai Masalembu dan terus keutara memasuki delat Makasar di sektar pulau Lumu-Lumu, pada 1993, waktu kerja mereka sudah mencapai dua bulan dengan biaya perbekalan tidak kurang dari Rp. 4.000.000,- untuk setiap kali pelayaran. (Kuntjoro, 1986; Suherman & Sadhotomo, 1985; Sujastani 1981).

Thun 1977, perahu-perahu trawl (Pukat Harimau), yang berpangkal di merakngigel memasuki perairan Kirdowono untuk memburu udang. Pukat harimau juga merusak jaring klitik nelayan kridowono. Akhirnya pemerintah turun tangan lewat keputusan Presiden Nomor 39 tahun 1980, perahu pukat harimau dilarang beroprasi di seua perairan Indonesia, kecuali Laut Arafura.

Usaha nelayan di kirdowono bangkit lagi dengan adanya program Kredit Investasi Kecil (KIK) dari pemerintah yang dilaksanakan pada tahun 1980/1981. Pemerintah lewat Bank Rakyat Indonesia (BRI) menyediakan kredit perahu senialai Rp.5.000.000,00 setiap paket. Pelaksanaan program tersebut diwarnai oleh penyelewengan. Paket kredit sampai ketangan para nelayan dalam bentuk sebuah perahu yang belum di cat, sebuah mesin tempel diesel dan satu set jaring insang (gil net) dengan panjang 500 meter dan lebar 10 meter. Semua ini di taksir para nelayan bernilai tidak lebih dari Rp.3.500.000,- dari yang semestinya Rp.5.000.000,-.

Penangkapan ikan dan berburu meramu pada dasarnya adalah kegiatan yang sama yaitu kegiatan yang bertumpu pada ekstratif sumberdaya alam. Nelayan tidak memiliki kemampuan untuk mengatur jumlah dan mutu hasil kerja, Mereka bekerja dengan ketidak tentuan yang tinggi (Acheson,1981).

Umumnya nelayang Kirdowono punya impian yang kurang lebih sama. Bila punya cukup uang mereka ingin membeli sawah, atau tanah pertanian kering atau tambak yang mampu memberikan penghasilan teratur dan memadai. Kalau saja mereka punya sember penghasilan lain, mereka ingin keluar dari pekerjaan menangkap ikan atau paling tidak menjadikannya sebagai pekerjaan skunder.